Jambi ...
Itu adalah sebuah tempat yang tidak pernah terbayang saya akan kesana. Saat saya dapat tugas ke Jakarta bersama Sabar juga bos kami pak JP (Jean Paul Margan), hari terakhir adalah hari kamis, sehingga Sabar mengambil cuti 1 hari (hari Jumat) untuk dapat pergi menengok keluarganya di Jambi.
Saya menawarkan diri untuk boleh menemani Sabar ke Jambi dan alhamdulillah gayung bersambut. Paling tidak biaya akomodasi bisa berkurang lah kalau bisa tinggal bersama keluarganya Sabar.DSC08239
Terus terang ini adalah pertama kalinya saya menginjak bumi Sumatera, sehingga saya sangat antusias dalam perjalanan kali ini.

Bandara kota Jambi adalah Bandara Sultan Thaha, masih jauh lebih besar dan moderen Bandara Sepinggan Balikpapan, juga masih lebih besar dengan Bandara Juwata Tarakan. Sama seperti Balikpapan, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga memang asyik berkendara di Jambi.
Karena hari ini adalah hari Jumat, maka saya harus melaksanakan ibadah Shalat Jumat, dan tentunya Masjid yang saya cari adalah Masjid utama kota Jambi, dan tidak lain itu adalah Masjid Al Falah atau yang lebih di kenal dengan nama Masjid 1000 Tiang.
Dahulu masjid ini adalah istana dari Sultan Thaha, entah mulai kapan masjid ini mulai di gunakan sebagai Masjid utama kota Jambi.

 

Keluarga Simorangkir adalah keluarga yang sangat ramah, Mak Tuo (panggilan dari ibunya Sabar), luar biasa ramahnya kepada saya, dari makanan semuanya di siapkan. Bapak Simorangkir lebih pendiam sama seperti Sabar, dan juga ada adiknya Sabar yang juga sangat baik dan ramah.
Tinggal di rumah Sabar selama 2 hari sama seperti tinggal di rumah sendiri dengan keramahan sebuah keluarga besar.

 

Ada 1 surprise yaitu ternyata saya punya teman di kota ini, yaitu Upik Sulaysih, dia adalah teman waktu di KSR Jakarta, dan keluarga Upik adalah keluarga guru.
Keluarga Upik dan bang Ariyanto, sangat ramah, dan ikhlas menjemput saya untuk mengantar kebeberapa tempat.
Sangat di sayangkan kalau beberapa hari ini cuaca tidak bersahabat di Jambi bagi photographer, langit di tutupi awan merata, sehingga matahari tertutup. Saya tidak menemukan sunset dan sunrise incaran saya di sungai Batanghari, karena benar-benar tidak ada matahari.

Oke ini adalah tempat makan yang bisa menjadi catatan kuliner saya.

  1. Es Campur Dedy, berada di pusat kota, di pasar, tetapi karena tempat Es Dedi sedang direnofasi, maka kami mencoba es campur di depannya, dan sekaligus ada penjual Teh Pahit Cina yang pernah menjadi fovorit saya waktu kecil di Jakarta.
  2. Nasi Gemuk - alias nasi uduk
  3. Pempek Palembang Nikmat
  4. Sate Padang kuah kacang, di Ancol