Setelah shalat Subuh, kami langsung meluncur ke Bontang Kuala.
Sama seperti kampung air di Balikpapan, tempat ini dirangkai dari jembatan kayu ulin yang menembus rapih rumah-rumah penduduk.

Diujung kampung ada sebuah tempat seperti lapangan (tapi terbuat dari kayu ulin) di tengah laut yang asli utuh memandang laut yang tenang tanpa riak.
Matahari mengitip malu-malu dari balik awan yang sangat tebal, sehingga tidak semua kecantikannya di tunjukkannya.
Tidak ada kata yang sanggup menjelaskan keindahan ini.